Selasa, 28 Februari 2012

Jaminan Kualitas Reaktor Nuklir



Jadi begini ceritanya, setelah mempelajari Kuliah Keselamatan Reaktor Nuklir khususnya tentang “Quality Assurance” dari Bapak Fadli Kasim, saya menyadari bahwa betapa pentingnya jaminan kualitas dalam Industri Berbasis Teknologi Nuklir khususnya di Reaktor Nuklir pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Mengapa saya mengatakan demikian?? Ada beberapa argument yang membuat saya berpikir demikian. Lets see..!!!
Berikut ini ringkasan mengenai jaminan kualitas yang saya rangkum dari document seorang Dosen terbaik yang ada pada Program Studi Teknik Nuklir Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (FT-UGM), Bapak Fadli Kasim ST., MT.

Jaminan Kualitas (Quality Assurance)

  1. Prinsip Utama
1.1.         Manajemen Mutu dan Jaminan Kualitas
1.2.         Program Jaminan Kualitas Sebagai Alat Manajemen
1.3.         Penekanan Pada Tujuan Kinerja
1.4.         Standar Keselamatan IAEA dan Bimbingan Pada Jaminan Kualitas
1.5.         Pendekatan Jaminan Mutu Berbasis Kinerja IAEA :
a.                   Berbasis Kinerja vs. Pendekatan Tradisional
b.                  Jaminan Kualitas Program dan Sistem Mutu
c.                   Sertifikasi Mutu
d.                  Sikap Pribadi
e.                   Budaya Kualitas dan Keselamatan
f.                   Biaya
g.                  Standar Jaminan Kualitas IAEA : Pencarian Untuk Perbaikan




  1. Penerapan Jaminan Kualitas Oleh Regulator dan Operator
2.1.            Tanggung Jawab Mengenai Program Jaminan Kualitas :
a.                   Badan Regulasi
b.                  Pemilik : Pemohon /Lisensi

2.2.            Kesulitan dalam mengimplementasikan program jaminan kualitas yang efektif oleh pemilik :
a.                   Alasan Utama Kesulitan
b.                  Kesulitan Spesifik

2.3.            Kesulitan Spesifik
Dapat diklasifikasi dalam beberapa bidang :
a.                   Perumusan persyaratan kualitas
b.                  Dukungan manajemen
c.                   Kualifikasi personil
d.                  Kekurangan vendor yang berkualitas
e.                   Kinerja audit
f.                   Dokumentasi berlebihan
g.                  Kekurangan yang berulang
h.                  Efektivitas jaminan kualitas




2.4.            Program Jaminan Kualitas Untuk Badan Pengawas :
            Tren Saat Ini Terhadap Badan Pengatur. Sikap dalam organisasi regulasi dapat dibagi menjadi 3 kelompok utama :
a.                   Organisasi yang mencoba melakukan pendekatan secara sistematis dalam kinerja kegiatan dengan menggunakan alat manajemen seperti kinerja modern menggunakan program jaminan kualitas.
b.                  Organisasi yang membutuhkan suatu metode sistematis namun tidak mau mengakui kebutuhan itu sebagai kebutuhan akan program jaminan kualitas.
c.                   Organisasi yang berkeinginan menjalankan program jaminan kualitas dan mencari dengan segera panduan yang spesifik.

2.5.            Kesulitan yang dialami dalam kinerja dari praktek regulasi :
a.                   Ketidaksenangan dan kebingungan tentang siapa yang bertanggung jawab untuk apa
b.                  Kerja sama tim yang tidak efektif dalam proyek
c.                   Tidak adanya prioritas
d.                  Rendahnya visibilitas manajemen dalam kebijakan dan perencanaan
e.                   Orang orang dan kelompok telah memetakan wilayah untuk mereka sendiri
f.                   Tidak adanya perencanaan jangka panjang dan lintas fungsional
g.                  Penundaan dalam kegiatan operasi disebabkan oleh keterlibatan / penundaan dari manajer senior
h.                  Kurangnya komunikasi antar interdivis dan intradivisi dan kesadaran akan situasi
i.                    Tidak ada sistem untuk mendokumentasikan keputusan
j.                    Kurangnya prosedur operasional dan standar untuk melakukan pekerjaan
k.                  Beberapa tugas manajer ditentukan untuk mendukung selesainya pekerjaan
l.                    Beban kerja yang tidak seimbang
m.                Praktek lisensi yang tidak konsisten
n.                  Pekerja yang terioslasi dan terdemotivasi
o.                  Praktek komunikasi yang buruk

2.6.            Manfaat dan kendala dari pendekatan secara sistematis untuk kualitas.
            Pengadopsian pendekatan sistematis mutu dapat membuat :
a.                   Menyediakan sarana untk badan pengawas fokus pada tujuan
b.                  Menyediakan sarana untuk perubahan yang positif
c.                   Menyediakan transparansi
d.                  Membantu membangun dan menjaga memori perusahaan
e.                   Menyediakan pendekatan regulasi yang konsisten
f.                   Menyediakan acuan untuk penilaian diri dan untuk perbaikan berkelanjutan
g.                  Membawa pada penggunaan sumber daya yang lebih efektif
h.                  Menyediakan lingkungan kerja yang lebih baik
i.                    Menyediakan sarana untuk meyakinkan kepada pihak yang berkepentingan
j.                    Badan regulasi bersedia memikul kepemimpinan

2.7.            Kelemahan
Dapat diringkas sebagai berikut :
Standar yang ada tidak memberikan pedoman untuk pengembangan program jaminan kualitas. Tidak adanya persyaratan spesifik dan panduan untuk melindungi kegiatan regulasi. Timbulnya resistensi dapat terjadi diberbagai tingkatan. Pembentukan dan pemeliharaan pendekatan sistematis untuk kualitas memerlukan alokasi sumber daya. Inkonsistensi dapat terjai di tingkat pemerintahan. Dan disiplin kerja dapat dianggap sebagai pembatasan terhadap kreatifitas, efisiensi, dll.

III. Tahap Jaminan Kualitas Selama Perancangan (Metode Verifikasi)
3.1.            Tapak
Evaluasi tapak harus menetapkan batas area tapak  yang ada di bawah kendali organisasi pengoperasi, dan hak hukumnya di dalam area tersebut. Setiap aktivitas yang tidak terkait dengan operasi reaktor  tetapi diizinkan dalam batas tapak harus dievaluasi dan diberikan alas an pembenarannya. karakteristik tapak yang memiliki pengaruh pada aspek keselamatan reaktor harus diinvestigasi dan dikaji oleh organisasi pengoperasi. Tujuan pengkajian tersebut adalah untuk menunjukkan bagaimana karakteristik tapak itu akan mempengaruhi kriteria rancangan dan kriteria operasi fasilitas serta untuk menunjukkan ketepatan karakteristik tapak dalam hal dampaknya terhadap keselamatan.

3.2.            Desain
Desain harus dirancang sedemikian sehingga tujuan keselamatan dapat tercapai. Penerapan persyaratan tersebut adalah sebuah proses interaktif dan harus diterapkan dalam semua fase perancangan, dengan pertimbangan hasil analisis keselamatan yang mengikutinya .Selain itu, perancang  harus juga mempertimbangkan efek rancangan terhadap fasilitas yang berhubungan dengan  implikasi rancangan pada semua tahapan sepanjang masa hidup rancangan terkait dengan keselamatan dan sistem, dan akses untuk operasi dan pemeliharaan.

3.3.            Pengadaan;
            Program jaminan kualitas juga harus mencakup:
a.   Identifikasi dan pengendalian item;
b.  Manufaktur pengendalian peralatan;
c.   Penanganan, penyimpanan, kemasan, pengawetan dan pengiriman

3.4.            Industri;

3.5.            Konstruksi
Kegiatan konstruksi harus direncanakan. Perencanaan harus mempertimbangkan perhitungan untuk situs fabrikasi, instalasi, inspeksi dan pengujian struktur, sistem dan komponen penting untuk keselamatan. Persyaratan ini harus diidentifikasi dengan pemeriksaan spesifikasi untuk struktur, sistem dan desain komponen, dokumen pengadaan dan gambar, dan rencana kerja dan jadwal konstruksi. Pemeriksaan ini harus memastikan bahwa semua kegiatan yang diperlukan untuk situs, instalasi inspeksi fabrikasi, dan pengujian telah di identifikasi, dan bahwa mereka dapat dicapai sebagaimana ditentukan.

3.6.            Commissioning;
Dokumen komisioning harus secara jelas mengidentifikasi persyaratan, uji tujuan, kriteria kondisi pembatasi pengujian, dan prosedur, peralatan khusus, tenaga persyaratan, tindakan pencegahan khusus, kriteria penerimaan dan catatan yang akan dihasilkan. Commissioning dokumen, komponen prosedur penyelesaian, prosedur komisioning dan fungsional persyaratan dokumen harus ditinjau dan disetujui.
3.7.            Operasi.
Prosedur harus ditetapkan untuk mengontrol aktivitas operasi di lokasi untuk memastikan bahwa pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir memenuhi persyaratan yang ditentukan. Contoh lebih lanjut dari program jaminan kualitas adalah:
a.                   Status peralatan dan kontrol;
b.                  Modifikasi;
c.                   Penanganan bahan bakar;
d.                  Pengelolaan limbah radioaktif;
e.                   Pemeliharaan fasilitas;
f.                   Layanan dalam inspeksi;
g.                  Pemantauan lingkungan
IV. Jaminan Kualitas Audit
Audit berfungsi untuk memberikan penilaian tidak memihak manajemen dan obyektif / evaluasi kualitas kinerja. Hal ini sangat sulit untuk menilai kinerja seseorang dan kinerja kemudian bisa memburuk tanpa manajemen menyadarinya. Itulah mengapa itu adalah praktek umum di seluruh organisasi untuk melakukan audit sebagai aktivitas normal dalam Quality Assurance (QA) program.

4.1.                                       Audit persyaratan
Adapun semua kegiatan lain yang terkait QA, langkah pertama adalah untuk menetapkan kebijakan tertulis dan prosedur. Prosedur audit harus berikut:
a.                   Tanggung jawab, wewenang dan organisasi independensi auditor;
b.                  Ketentuan untuk akses oleh tim audit ke tingkat manajemen yang memiliki
tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan tindakan korektif;
c.                   Penyediaan untuk penggunaan spesialis;
d.                  Metode dan jadwal untuk menyiapkan, melaksanakan dan pelaporan audit;
e.                   Distribusi laporan audit;
f.                   Kualifikasi dan pengalaman auditor;
g.                  Rincian interaksi antara auditor dan auditee;
h.                  Perencanaan dan audit kinerja;

4.2.            Tipe dan Karakteristik Audit
a.                   Special event audits
            Pemeriksaan dan identifikasi penyebab pada peristiwa besar dalam pembangkit. Contoh : Peristiwa hilangnya regulasi reaktor.
b.                  Narrow and broad audits
            Audit secara umum  : diterapkan pada awal tahap operasional dari rencana
            Audit secara sempit : diterapkan di kemudian hari, di mana kekurangan dalam aplikasi QA yang spesifik

4.3.            Perencanaan Audit
Perencanaan tahunan, terdiri dari :
a.                   Jadwal audit eksternal : umumnya direncanakan pada siklus lima tahun dan berfokus pada berbagai elemen dari program QA dan dilakukan oleh personil eksternal
b.                  Jadwal audit internal : biasanya dilakukan oleh kelompok QA, audit ini biasanya direncanakan secara tahunan.

4.4.             Persyaratan Keanggotaan Audit
Tim audit terdiri dari :
a.                   Kepala auditor
b.                  Auditor
c.                   Audit verifier
d.                  Audit trainee dan pengamat
e.                   Tenaga ahli pada bidang tertentu

Kualifikasi anggota tim audit diantaranya :
a.                   Pendidikan formal
b.                  Berpengalaman di PLTN
c.                   Prestasi khusus
d.                  Pengalaman manajerial
e.                   Ketrampilan berkomunikasi
f.                   Pelatihan audit dan QA
g.                  Partisipasi dalam tim audit


4.5.              Proses Audit
4.5.1        Persiapan
a.                   Pemberitahuan kepada manajemen unit organisasi yang akan diaudit
b.                  Persiapan audit
c.                   Fokus area untuk audit dan dasar pemilihan
d.                  Jadwal kegiatan audit sehari-hari
e.                   Pengaturan untuk review audit independen oleh verifier audit

4.5.2        Proses Audit
a.                   Pertemuan pra-audit utk memperkenalkan tujuan dan metode
b.                  Kegiatan lapangan
c.                   Pengumpulan data
d.                  Wawancara
e.                   Penentuan persoalan
f.                   Penentuan temuan
g.                  Diskusi reguler
h.                  Review temuan
i.                    Exit meeting
j.                    Pembuatan draft laporan audit
k.                  Pembuatan laporan audit

4.5.3        Proses Tindak Lanjut
Proses tindak lanjut dari pemeriksaan temuan yang signifikan tersebut kembali diperiksa selama audit berikutnya untuk mengukur efektivitas dari tindakan perbaikan yang telah dilaksanakan oleh manajerial. Jika masalah tetap berlangsung, maka tindakan perbaikan telah terbukti tidak efektif dan diperlukan pendekatan baru untuk masalah ini.

4.6.           Teknik Audit
Informasi yang ditemukan tim audit mencerminkan seberapa signifikan masalah yang terjadi. Persoalan tersebut penting untuk ditangani oleh managerial.
a.                   Apa konsekuensi penting dari kekurangan ini?
b.                  Apa potensi untuk masalah selanjutnya?
c.                   Berapa banyak contoh serupa telah ditemukan?

V.    Assessment Of The Implementation Of Quality  Assurance Programme
Penilaian terhadap pelaksanaan program Quality Assurance (QA) dilakukan untuk menentukan bahwa persyaratan telah terpenuhi dan proses telah memadai dan efektif, dan untuk mendorong manajerial melaksanakan perbaikan.
a.                   Management self-assessment
b.                  Independent assessment

5.1.            Collecting Data
a.                   Data dikumpulkan secara formal dan informal
b.                  Indikator kinerja, Pra-syarat yang diperlukan untuk pengukuran kinerja yang berkelanjutan dan untuk memastikan di mana kelemahan kinerja
c.                   Penilaian yang korektif, Tindakan korektif yang telah selesai harus dikaji secara independen untuk mengukur efektivitasnya.

5.2.            Evaluation of Data
Data yang diperoleh, agar dapat berguna, harus dievaluasi sehubungan dengan relevansinya terhadap efektivitas program QA. Data berkorelasi, dianalisis dan ditampilkan.
Evaluasi dengan teknis tertentu untuk mencari penyebab ketidaksesuaian dalam hal kekurangan manusia atau peralatan atau kombinasi keduanya


5.3.            Tinjauan Tahunan Program QA
Selain meninjau langsung, kajian program QA yang lebih mendalam juga dilakukan. Prosedur yang biasa dilakukan adalah :
a.                   Adanya review dari masalah utama yang muncul
b.                  Ringkasan dipersiapkan managerial utk peninjauan
c.                   Pertemuan managerial dengan operasional

5.4.            Manajemen Audit
Dalam jangka 3-5  tahun pelaksana senior akan menanyakan tentang audit kualitas operasional.
a.                   Strategis: apakah prinsip-prinsip kualitas dipahami dan diterapkan secara seragam di seluruh organisasi ?
b.                  Organisasi: apakah organisasi yang ada mampu mendukung pencapaian kualitas yang tepat di semua kegiatan?
c.                   Operasional: apakah kebijakan yang tepat dan prosedur di tempat, terkoordinasi dengan baik dan diterapkan secara konsisten?
d.                  Kontrol oleh manajemen: apakah proses kerja terkontrol, pencapaian kualitas dipantau dan pengalaman diterapkan untuk meningkatkan kinerja?
e.                   Faktor manusia: apakah ada pengakuan yang memadai diberikan kepada pentingnya kinerja manusia dan proses untuk meningkatkan dan mempertahankan itu?
f.                   Perlengkapan: apakah memiliki ketersediaan pasokan jangka panjang yang memadai  dengan kualitas yg telah terbukti?

5.5.            Gejala Defisiensi
a.                   Manajemen harus memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi situasi tidak cukup ditangani oleh fungsi normal dari organisasi. Sebuah organisasi di mana sistem yang dikelola berfungsi dengan benar akan diharapkan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang muncul dalam perjalanan kerja normal
b.                  Masalah yang diidentifikasi;
c.                   Mengapa organisasi tidak menemukan masalah melalui fungsi normal?




Dari ringkasan mengenai “Quality Assurance” yang telah saya buat, dapat ditarik suatu benang merah bahwa ada kaitan yang sangat erat mengenai jaminan kualitas dalam Keselamatan Reaktor Nuklir (KRN). Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Keselamatan Reaktor Nuklir memegang peranan yang sangat Vital dalam Industri berbasis Reaktor Nuklir. Sedangkan Manajemen Keselamatan Nuklir Sendiri membutuhkan Jaminan Kualitas yang baik. Untuk itu mempelajari Jaminan Kualitas   adalah suatu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang yang akan berkecimpung dalam dunia Reaktor Nuklir. Jaminan Kualitas dapat menerangkan konsep secara gambling mengenai proses kerja dalam industri Nuklir. Ini dapat dijelaskan dalam bahasan mengenai “Tahap Jaminan Kualitas Selama Perancangan (Metode Verifikasi)”, (baca BAB III). Dalam bahasan tersebut dijelaskan mengenai tahapan jaminan kualitas. Dan ternyata jaminan kualitas sudah di rancang pada saat akan merancang suatu industry Reaktor Nuklir itu sendiri.
Dan dari ringkasan yang telah saya buat, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1.                  Prinsip utama jaminan kualitas adalah Manajemen Mutu dan Jaminan Kualitas, Program Jaminan Kualitas Sebagai Alat Manajemen, Penekanan Pada Tujuan Kinerja, Standar Keselamatan IAEA dan Bimbingan Pada Jaminan Kualitas, serta  Pendekatan Jaminan Mutu Berbasis Kinerja IAEA.
2.                  Kelemahan yang ada pada penerapan jaminan kualitas adalah Standar yang ada tidak memberikan pedoman untuk pengembangan program jaminan kualitas. Tidak adanya persyaratan spesifik dan panduan untuk melindungi kegiatan regulasi. Timbulnya resistensi dapat terjadi diberbagai tingkatan. Pembentukan dan pemeliharaan pendekatan sistematis untuk kualitas memerlukan alokasi sumber daya. Inkonsistensi dapat terjai di tingkat pemerintahan. Dan disiplin kerja dapat dianggap sebagai pembatasan terhadap kreatifitas, efisiensi, dll.


3.                  Tahap jaminan Kualitas selama perancangan.
a.                   Tapak;
b.                  Desain;
c.                   Pengadaan;
d.                  Industri;
e.                   Konstruksi;
f.                   Commissioning;
g.                  Operasi.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar